Penjelasan Pasian Kanker Pantang Makan Danging dan Ikan

Penjelasan Pasian Kanker Pantang Makan Danging dan Ikan

Didiagnosis menderita kanker sering kali membuat banyak orang merasa di ambang kematian. Tak heran berbagai upaya dilakukan oleh para padien untuk segera sembuh, termasuk pantang makan makanan tertentu.

Lalu kira-kira makanan apa ya yang tak boleh dikonsumsi para penderita kanker?

Menurut sebuah penelitian terbaru, makanan yang pantang dimakan para penderita kanker adalah daging dan ikan (makanan laut).

Pantangan tersebut karena para peneliti dari University of Cambridge menemukan bahwa mengonsumsi daging dan ikan bisa membuat kanker lebih mudah menyebar ke seluruh tubuh. Dengan kata lain, makanan tersebut membuat kanker lebih mematikan.

Sebenarnya, yang membuat daging dan ikan menjadi mematikan bagi pasien kanker adalah kandungan asparagin di dalamnya. Asparagin adalah salah satu asam amino yang digunakan oleh sel untuk membuat protein.

Kanker sendiri merupakan sel yang tumbuh tidak normal. Ini berarti bahwa konsumsi asparagin juga memberi "makan" sel abnormal tersebut.

Pada pengujian terhadap tikus, ditemukan bahwa memotong asupan asparagin dalam makanan mengurangi kemampuan kanker untuk menyebar.

Analisis lebih lanjut juga menunjukkan bahwa orang dengan gen yang lebih tidak aktif dalam memproduksi asparagin mempunyai tingkat bertahan hidup yang lebih baik terhadap kanker payudara, ginjal, kepala, dan leher. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature ini menyarankan agar pasien kanker payudara untuk menghindari makanan berasparagin tinggi.

Seperti yang diketahui, sebagian besar penderita kanker tidak meninggal akibat tumor primernya. Tapi, penyebaran sel kanker ke paru-paru, otak, tulang, dan organ lain yang membuat pasien meninggal.

Harapannya, temuan ini kemudian menjadi kunci untuk meningkatkan kelangsungan hidup pasien kanker.

"Temuan ini menambah informasi penting untuk pemahaman kita tentang bagaimana menghentikan penyebaran kanker, alasan utama pasien meninggal akibat penyakit mereka," ungkap Profesor Greg Hannon, pemimpin penelitian ini dikutip dari New York Post, Kamis (08/02/2018).

"Hasilnya sangat sugestif bahwa perubahan dalam pola makan dapat mempengaruhi bagaimana seseorang merespons terapi primer dan kemungkinan penyebaran penyakit mematikan di kemudian hari," imbuhnya.

Sayangnya, temuan ini tidak banyak mendapat dukungan, bahkan banyak ilmuwan menentang hasil tersebut. Salah satunya oleh Martin Ledwick dari Cancer Research UK.

"Saat ini tidak ada bukti bahwa membatasi makanan tertentu dapat membantu melawan kanker," ujar Ledwick.

"Penting bagi pasien untuk berbicara dengan dokter mereka sebelum membuat perubahan pada pola makan mereka saat menjalani perawatan." tambahnya.

Dalam temuan tersebut sebenarnya, mengurangi jumlah asparagin pada tikus hanya mengurangi penyebaran kanker. Cara tersebut tidak berdampak pada perkembangan tumor primer pasien.

Untuk itu, saat ini Hannon dan timnya sedang mempertimbangkan untuk melakukan uji coba pada manusia. Ini dilakukan agar mereka bisa menilai dampak pengurangan asupan asparagin terhadap penyebaran kanker.

Pernah Liat Video Kucing Melompat Ketika Melihat Mentimun, ini Penjelasannya

Pernah Liat Video Kucing Melompat Ketika Melihat Mentimun, ini Penjelasannya

Teka-teki kenapa kucing takut pada mentimun akhirnya terjawab sudah. Penjelasan ini diperlukan setelah akhir-akhir ini di jagat internet diramaikan oleh video-video dan gambar-gambar bergerak yang memperlihatkan kucing takut mentimun.

Kucing-kucing itu meloncat ke udara, bersiap melawan, dan mereka akan lari terbirit-birit.

Pertanyaannya, kenapa kucing-kucing itu takut mentimun? Apakah nenek moyang mereka juga memiliki riwayat “permusuhan” dengan buah berwarna hijau itu?

Jangan terlalu cepat berprasangka!

Merujuk pada pernyataan IFL Science, sejatinya kucing itu takut terhadap segala sesuatu yang tiba-tiba menyelinap di belakangnya—termasuk mentimun.

Jika si pemilik menyelinapkan nanas sebagai gantinya, mereka juga akan menunjukkan respon yang sama: meloncat kaget.

Spesialis perilaku hewan Dr Roger Mugford mengatakan: “Saya pikir bahwa reaksi ini disebabkan oleh hal-hal baru dan tidak disangka-sangka; tiba-tiba ada benda yang menyelinap ketika kepala mereka lebih tertuju pada mangkuk makanan.”

Kucing memiliki kewaspadaan terhadap apa yang tidak dikenal.

“Bisa jadi mentimun itu adalah representasi dari ular atau predator lain. Saya menduga mereka akan menunjukkan reaksi yang sama ketika menemukan laba-laba mainan, ikan plastik, atau masker wajah manusia, di sela-sela kaki mereka,” tambah Mugrord. benarkah? Saatnya Anda mencobanya!

Berikut Videonya


Goa Bawah Air Terpanjang di Dunia dan Jejak Suku Maya

Goa Bawah Air Terpanjang di Dunia dan Jejak Suku Maya

Sistem goa bawah air terpanjang di dunia ada di Meksiko, dan sejumlah artefak kuno dari suku Maya, serta fosil hewan purba ditemukan di dalam goa tersebut.

Para peneliti dari proyek Great Maya Aquifer berkata bahwa dua goa, yaitu Sac Actun dan Dos Jos, di Semenanjung Yucatan, Meksiko, ternyata saling terhubung dan membentuk sistem goa bawah air dengan panjang 346 kilometer.

" Goa besar ini merupakan situs arkeologi yang berada di bawah air dan paling penting di dunia," kata Guillermo de Anda, seorang arkeolog bawah air kepada National Geographic, Selasa (20/2/2018). 

"Di dalamnya terdapat ratusan benda arkeologi termasuk bukti penduduk pertama di Amerika, fosil hewan purba dan tentunya peninggalan budaya suku Maya," tambahnya.

Di goa tersebut, para peneliti menemukan fosil kungkang raksasa berusia 15.000 tahun, moyang gajah yang disebut gomphotheres, dan fosil beruang. Selain itu, ada tempat pemujaan bagi dewa perang dan dewa kekayaan suku Maya.

Lalu, sekitar 120 artefak ditemukan peneliti, seperti tulang manusia yang terbakar, keramik, dan hiasan dinding. Beberapa di antaranya berusia lebih dari 12.000 tahun.

De Anda menjelaskan bahwa peneliti juga menemukan sebuah tengkorak manusia berusia sekitar 9.000 tahun yang ditutupi dengan endapan batu kapur air laut.

Temuan-temuan ini tidak bisa dipisahkan dari ketinggian air dalam goa yang selalu berubah dari waktu ke waktu.

Pada akhir zaman es, misalnya, ketinggian air dalam goa mencapai 94 meter dan merendam sisa-sisa hewan purba berukuran besar. Kemungkinan manusia saat itu tidak tinggal di dalam goa, dan hanya sesekali datang untuk mengambil air.

Selama penjelajahan di goa tersebut, peneliti berkata bahwa penemuan terbaru ini konsisten dengan artefak manusia dan hewan purba yang sebelumnya ditemukan di bawah laut di Yucatán.

Penemuan-penemuan baru ini menjadi semakin luar biasa karena lokasi goa Sac Actun yang besar dan panjang. "Sangat tidak mungkin ada situs lain di dunia ini dengan jumlah artefak arkeologi yang mengesankan di dalamnya, dan masih terjaga dengan baik, " kata de Anda.

Meski begitu, para peneliti memperingatkan bahwa sistem gua Sac Actun terancam oleh polusi.

Blognya Rava Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger